Minggu, 09 Juli 2017

Cupil Makanan Asli Lampung

CUPIL adalah panganan masakan dari masyarakat Lampung, Indonesia. Ini adalah salah satu makanan yang paling populer di Way Ratai padang cermin Lampung pada saat hari raya Idul fitri. Cupil ini memiliki ciri sejenis lontong/ketupat hanya saja cupil terbuat dari beras ketan, Cupil terkenal dimakan dengan Opor ayam, pindang/gulai ikan tempoyak dan juga daging Rendang.
Berikut foto penampakanya

Senin, 06 Maret 2017

Way Ratai Tanah Kelahiranku

Desaku yang kucinta
Pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda dan handaitaulanku
Tak mudah kulupakan
Tak mudah bercerai
Selalu kurindukan
Desaku yang permai…

Lagu tersebut mengingatkan kita akan keadaan sebuah desa yang masih asri, tempat kelahiran yang kita banggakan, tempat menetap ayah dan ibu kita, tempat kita merasakan kebahagiaan semasa kecil…

Hmmm...ya begitulah kira2 yg saya rasakan mungkin kalian juga punya rasa yg sama😊

Saya dilahirkan di sebuah desa, namaya desa Gubuk Genteng. Desa Gubuk adalah salah satu daerah dari Kecamatan padang cermin, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Desaku sangat dingin dan sejuk.  Pagi, sore dan malam hari udara terasa dingin sedangkan siang hari udaranya panas. Desaku berada di pesisir teluk, bagian selatan terdapat hutan lindung yang masih hijau. Hamparan sawah yang berada di tengah desa menjadi pemandangan yang indah. Sumber mata air yang banyak, sehingga masyarakat tidak kekurangan air bersih.
  hasil perkebunannya bermacam-macam, seperti: kopi, cengkeh, kakao, vanili, kemiri, dan lada. Setiap hari masyarakat ke kebun untuk merawat tanamannya.
Masyarakat biasanya memanen hasil perkebunannya satu kali dalam setahun, kecuali kakao bisa satu kali seminggu..
        Pekerjaan masyarakat 85% sebagai petani, 10% buruh dan pedagang, dan 5% guru dan pegawai. Desaku boleh dikatakan lumayan maju karena fasilitasnya sudah mencukupi. Jalan raya, Perusahaan Listrik Negara (PLN), Puskesmas, sekolah, dan tempat ibadah. Jalan raya dari desa ke kota sudah bagus, baik ke kota kecamatan maupun ke kota kabupaten, sehingga memudahkan transportasi untuk masuk ke desa. Dan masyarakat lebih mudah menjual hasil perkebunannya dan belanja untuk kebutuhan sehari-hari.
Desa kami boleh dikatan banyak sekali tempat wisata bahari seperti pantai klara,pantai mutun,pahawang dan masih banyak lagi yg tdk bisa saya sebutkan satupersatu
           
Kehidupan masyarakat kami sangat rukun dan harmonis tanpa memandang suku dan status sosial. Banyak sekali transmigran/pendatang yang menetap di desa kami semuanya berbaur etnis suku dan budaya kami anggap semua saudara

            Itulah gambaran singkat, desaku. Aku lahir dan dibesarkan di sana. Hingga aku bisa seperti sekarang ini. Nantikan kedatanganku desaku...
Ibarat pribahasa mengatakan hujan emas di negeri orang,lebih baik hujan batu di negri sendiri. (Sebaik-baik negeri orang tidak sebaik di negeri sendiri.)

Lain kali kita sambung lagi harap maklum jika saya nulis blog ini  agak berantakan ngantuk soal nya gan besok nguli lagi😊tabikpun puakhi sunyini Salam angkon kemuakhian anjak sikam di tanoh khantauan.